Mendorong Wirausaha Baru di Era Digital


Mendorong Wirausaha Baru di Era Digital Perkembangan teknologi informasi dan penetrasi internet di pelosok daerah telah mendorong pertumbuhan pengguna internet di Tanah Air. Bila dibanding negara lain, pertumbuhan pengguna internet Indonesia tidak hanya melampaui rata-rata, tapi juga merupakan yang tersebesar di dunia. Menurut survei We Are Social (2017), pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta atau 51 persen dari total populasi. Angka itu mengalami pertumbuhan 51 persen atau 45 juta pengguna dalam kurun waktu satu tahun. Indonesia berada di posisi teratas, diikuti Filipina dan Meksiko yang tumbuh sebesar 27 persen. Dari jumlah itu, sebanyak 106 juta (40 persen) orang aktif di media sosial. Telephone seluler (ponsel) menjadi media yang dipilih untuk menakses media sosial yaitu sebesar 92 juta. Tingginya pertumbuhan pengguna internet itu juga diimbangi dengan tingginya pemilik ponsel yaitu sebesar 91 persen populasi Indonesia. Sedangkan pengguna smartphone berjumlah 47 persen.

 Penggunaan smartphone membuka kesempatan konsumen untuk terus mengakses internet dan aplikasi. Telepon pintar juga memunculkan peluang bagi penggunanya untuk membeli atau menjual produk dan jasa hanya dengan sentuhan layar telephone. Tak pelak, pertumbuhan teknologi digital dan penggunanya yang kian banyak membawa perubahan model bisnis. Riset DBS Sink or Swim – Business Impact of Digital Technology, DBS mencatat ada tiga dampak signifikan yang dibawa teknologi digital terhadap dunia binis. 51 27 27 23 21 16 11 10 0 10 20 30 40 50 60 Indonesia Filipina Meksiko India Thailand Brazil Arab Saudi Rata-rata global Pertumbuhan Pengguna Internet (%) Pertama, kecepatan akses dan kesempatan lebih besar bagi konsumen. Konsumen saat ini bisa mengakses berbagai layanan jasa dalam satu platform.

Aplikasi membantu konsumen memilih layanan hanya dengan satu klik saja. Contohnya seperti Go-Jek, konsumen bisa memesan ojek untuk jasa transportasi, pengiriman barang, memesan makanan, bahkan mengirim uang. Kedua, cara baru melakukan business intelligence. Melalui teknologi digital, memungkinkan pelaku bisnis mendapatkan sumber informasi baru mengenai konsumen yang tidak pernah didapatkan sebelumnya. Pelaku bisnis juga bisa mendapatkan data mengenai kebiasaan yang dilakukan konsumen terhadap produknya sehingga bisa melakukan peningkatan kualitas layanan. Ketiga, infrastruktur digital, bukan lagi berupa fisik. Teknologi digital saat ini memungkinkan perusahaan untuk lebih berhemat.

Mereka tak perlu lagi menyiapkan infrastruktur fisik seperti membuka cabang gerai, namun cukup membuka tokonya secara online. Inovasi Digital dan Menjamurnya Startup Meningkatnya perkembangan internet memunculkan berbagai macam lini bisnis seperti perdagangan online (e-commerce), menjamurnya bisnis rintisan berbasis teknologi (startup) dan layanan keuangan digital atau financial technology (fintech). Saat ini, jumlah startup di Indonesia mencapai 2.000 atau tertinggi di Asia Tenggara. Menurut riset CHGR jumlah ini akan mencapai 6,5 kali lipat atau 13. 000 startup pada 2020.

Besarnya potensi startup ini juga didorong meningkatnya jumlah investor yang melihat Indonesia sebagai pasar digital. Beberapa e-commerce besar muncul yaitu Tokopedia, Bukalapak, Go-Jek, dan Doku. Startup fintech juga bermunculan untuk menyediakan layanan pemberian kredit seperti yang dilakukan perbankan ataupun platform untuk membeli produk keuangan. Beberapa fintech yaitu Modalku, Investree, Pendanaan, Bareksa. Menurut Bank Indonesia, saat ini terdapat 142 perusahaan fintech lokal yang beroperasi di Indonesia. Salah satu perusahaan startup yang berkembang di Indonesia dan menjadi fenomena tersendiri adalah Go-Jek.

Go-Jek kini bukan sekedar aplikasi penyedia jasa transportasi saja, namun merambah ke bisnis logistik, pembayaran, layan antar makanan, dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari seperti penyedia jasa home cleaning, perawatan tubuh hingga otomotif. Layanan Go Jek sudah bisa dinikmati di 25 kota di Indonesia. Ia memberikan kemudahan bagi pengguna dan memberikan lapangan kerja bagi ratusan mitra Go Jek. Go-Jek yang semula perusahaan rintisan kini menjelma menjadi perusahaan raksasa dengan valuasi mencapai US$ 1,3 miliar atau Rp 17,3 triliun.

Artinya Go-Jek masuk dalam klub unicorn atau perusahaan dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar. Ini merupakan yang pertama dalam dunia startup Indonesia. Adapun Tokopedia menjadi perusahaan dengan valuasi tertinggi kedua yaitu US$ 100 juta. Go-Jek juga menjadi perusahaan rintisan dengan pendanaan terbesar di Indonesia. Perusahaan ini mendapatkan berbagai kucuran modal hingga US$ 550 juta atau Rp 7,2 triliun pada Agustus 2016. Para investornya yaitu KKR, Sequoia Capital, Capital Group, Rakuten Ventures, NSI Ventures, Northstar Group, DST Global, Farallon Capital Management, Warburg Pincus, dan Formation Group.

0 Response to "Mendorong Wirausaha Baru di Era Digital "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel