Belajar dari Penjaja Air Gula


Ada sebuah kisah marketing yang disampaikan Seth Godindan Dan Ariely tentang Coca Cola dan Pepsi yang keduanya kental dengan dunia anak muda, branding, dan media.Tahun 80-an, Pepsi pernah meraih masa kejayaan sebagai brand-nya kaum muda. Dengan kejayaan itu Pepsi berhasil mencuri market share dari para pesaingnya. Kontan Saja, Pepsi semakin percaya diri mengklaim sebagai produsen soda paling digandrungi anak muda.

Keberhasilan tersebut berkat peluncuran "Pepsi Challenge" yang dibuat untuk menegaskan bahwasanya Pepsi merupakan produsen minuman soda pendatang baru yang secara defacto menjadi pilihan kaum muda. Di dalam "Pepsi Challenge", konsumen melakukan tes mencicipi beragam minuman soda dengan menggunakan penutup mata. Konsumen menyatakan bahwa rasa pepsi lebih baik.

Dari hasil tersebut Pepsi beranggapan bahwa mereka telah menang dan market share nantinya pasti mengikuti. Produk yang superior sama dengan kemenangan mutlak. Itulah asumsi dasar Pepsi. Asumsi ini memang tepat untuk marketing sebelum maraknya internet. Mantra Milton Hersey bahwa produk berkualitas adalah iklan yang terbaik memang tepat untuk zaman ketika Hersey didirikan. Tapi, apakah itu cukup untuk memenangkan pemasaran masa kini?

Orang awam mungkin akan menunjuk ke peluncuran Mie Sedaap sebagai studi kasus. Ketika mi instan merek Wings Food ini diluncurkan di tahun 2003, kampanye iklannya tampak terfokus ke rasa dari mi instan tersebut yang katanya lebih enak dari rasa Indomie, pemimpin pasar di kategori mi instan Saat itu. Tapi apakah benar ini faktor utama pendorong kesuksesan Mie Sedaap?


Bila Mie Sedaap tidak bermain di Pasar ekonomis, atau bila merek tersebut tidak memberikan hadiah piring dan gelas untuk pembelian jumlah tertentu, atau bila merek tersebut tidak memiliki daya ungkit jalur distribusi Wings melalui warung-warung kecil yang biasa memasarkan sabun colek Wings, apa iya Mie Sedaap bisa mendapatkan pangsa Pasar yang signifikan?

Apakah produk yang lebih baik (lebih enak/lcbih cepat/lebih murah/ lebih canggih/dan lainnya) dapat menjamin kcsuksesan di pasar? Pada era 90-an, sejumlah peneliti mengulang eksperimen yang sama dengan yang dilakukan Pepsi. Bedanya, kali ini tes mencicipi minuman soda dilakukan tanpa tutup mata. Hasilnya? Lebih banyak orang mengatakan lebih memilih mencoba Coca Cola ketimbang Pepsi!

Ternyata preferensi produk tidak menghasilkan preferensi merek. Justru sebaliknya, preferensi merek-lah yang menghasilkan preferensi produk. Banyak variasi dari eksperimen ini yang telah dilakukan. Jika minum anggur yang sama, orang cenderung mengatakan anggur itu lebih enak bila mereka terlebih dulu diberi tahu bahwa anggur tersebut berasal dari Prancis dibanding mereka yang diberi tahu bahwa anggur tersebut dari Australia.

Jika makan cokelat yang sama, orang cenderung mengatakan cokelat itu lebih enak bila mereka terlebih dulu diberi tahu bahwa cokelat tersebut berasal dari Belgia dibanding mereka yang diberi tahu bahwa cokelat tersebut buatan Cina. Faktor pencetus pembelian bukanlah fitur produk (konten), melainkan makna produk tersebut dalam lingkup sosialnya (konteks).



0 Response to "Belajar dari Penjaja Air Gula "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel