Dua Komponen Brand : Konten dan Konteks


Salah satu kunci menghadapi tantangan bagi para marketer saat ini adalah dengan memahami perbedaan antara apa yang dilaporkan media dan apa yang dirasakan orang-orang di dunia. Pada 1990-an, agak sulit bagi kita mengakui dan memberikan alasan kepada orang mengapa kita mempunyai telepon genggam kalau kita bukan stockbroker, pengusaha, atau orang kaya. Sementara saat ini, kita tidak perlu alasan logis untuk mempunyai telepon genggam.
Coba Anda bertanya kepada orang-orang di toko sepatu mengapa mereka membeli sepasang Sepatu Nike. Mungkin ada yang menjawab karena mereka Suka desain Nike yang ergonomis, atau ada pula
yang senang karena melihat iklan di TV. Tidak akan pernah ada orang yang menjawab mereka membeli sepatu Nike karena jika memakai sepatu Adidas akan membuat mereka terlihat bodoh dan
dinilai kurang gaul. 

Itulah sebab mereka berusaha memberikan pembenaran pilihan pembclian mercka sehingga mereka tidak akan terlihat aneh atau emosional. Fenomena ini sering disebut dengan istilah post-hoc rationalisation. Mungkin ibu Anda membeli telepon seluler pertamanya Pada era 1990-an kalau-kalau mobil rusak. Sepuluh tahun kemudian, mobilnya masih utuh dan dalam kondisi yang baik. Alasan mobil rusak hanyalah sebuah contoh pembenaran emosi dari logika. Pembenaran ini sangat lazim di kalangan anak muda, terutama jika mereka menjawab pertanyaan di dalam sebuah focus group.
Ketika Anda lebih dewasa, Anda menjadi lebih percaya diri tentang keputusan dan identitas Anda. Akan tetapi, seorang remaja mencari pembuktian dari lingkungan sosialnya untuk pembenaran
atas perilaku mereka. Itulah mengapa focus group efektif untuk mengidentifikasi konten produk yang disukai anak-anak muda, tetapi sangat tidak efektif untuk mengidentifikasi alasan yang sebenarnya
mengapa mereka membeli sebuah produk—konteks sosial mengapa mereka membeli sebuah produk.

Itulah mengapa para marketer sampai Pada kesimpulan yang Salah seperti, ' 'Kami membutuhkan
sebuah QWERTY keyboard untuk berkompetisi dengan BlackBerry," atau, "Anak-anak muda menginginkan musik gratis." Lagi dan lagi kita dengar para marketer itu kembali mendiskusikan
harga gratis karena mereka pikir itu yang diinginkan anak-anak muda. 

Ketika kita tidak mengerti mengapa anak-anak muda mau membeli sebuah produk, biasanya kita akan berprasangka itu soal harga, dan sering kali kita mengartikan sebagai gratis. Lalu, jika memang anak-anak muda menginginkan sesuatu yang "gratis", mengapa mereka mau mengeluarkan jutaan rupiah untuk sebuah produk Apple atau untuk berpesta selama akhir pekan? Memang, harga mcrupakan hal yang sensitif, tctapi harga hanyalah bagian dari produk belaka, bukan konteks.

0 Response to "Dua Komponen Brand : Konten dan Konteks "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel